ETIKA BISNIS DAN PENGERTAN BUDAYA ORGANISASI DAN HUBUNGANNYA DENGAN ETIKA SERTA KENDALANYA DALAM KINERJA BISNIS (BUDAYA, TINGKAH LAKU, APRESIASI BUDAYA, HUBUNGAN ETIKA DAN BUDAYA)
Nama Kelompok:
Dayana Budi Sabilla 12214569
Istiqomah Yunianti 15214532
Prima Nanda A.G 18214521
Kelas : 3EA37
Kelompok 5
UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2017/2018
DEFINISI ETIKA DAN
BISNIS SEBAGAI SEBUAH PROFESI
Hakekat Mata Kuliah
Etika Bisnis (Dayana Budi Sabilla 12214569)
Menurut
kamus, istilah etika memiliki beragam makna yang berbeda, salah satu maknanya
adalah “prinsip tingkah laku yang mengatur individu atau kelompok.” Kadang kita
mengunakan istilah etika personal, misalnya ketika mengacu pada aturan-aturan
dalam lingkup dimana orang per orang menjalani kehidupan pribadinya. Kita
menggunakan istilah etika akuntansi, ketika mengacu pada seperangkat aturan
yang mengatur tindakan profesional akuntan. Mengenai etika menurut kamus :
etika adalah kajian moralitas. Para ahli etika menggunakan istilah etika untuk
mengacu terutama pada pengkajian moralitas. Meskipun etika berkaitan dengan
moralitas, namun tidak sama persis dengan moralitas. Etika adalah semacam
penelaah baik aktivitas penelaahan maupun hasil-hasil penelaahan itu sendiri,
sedangkan moralitas merupakan subjek.
Definisi Etika dan Bisnis
Untuk
memahami dari etika itu sendiri, apakah “Etika” maka perlu membandingkannya
dengan moralitas. Baik etika dan moralitas sering dipakai bersamaan serta dapat
dipertukarkan dengan pengertian yang sering disamakan dengan begitu saja.
Secara teoritis dapat membedakan 2 pengertian etika yaitu berasal dari bahasa
yunani “Ethos” berarti adat istiadat atau kebiasaan. Hal ini berarti etika
berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang
baik, dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang
lain atau dari satu generasi ke generasi lainnya. Pengertian tersebut relatif
sama dengan arti dari moralitas. Moralitas berasal dari bahasa latin “Mos” yang
bentuk jamaknya “Mores” berarti ada istiadat atau kebiasaan. Jadi pengertian
secara umum, etika dan moralitas, sama-sama berarti merupakan sistem nilai
tentang bagaimana manusia harus hidup baik dalam sebuah adat kebiasaan yang
kemudian terwujud dalam pola perilaku yang konsisten dalam kurun waktu yang
lama layaknya sebuah kebiasaan.
Dengan
demikian, etika dalam pengertian kedua dapat dirumuskan sebagai refleksi kritis
dan rasional mengenai.
a.
Nilai dan norma yang menyamgkut bagaimana manusia harus hidup
baik sebagai manusia. Misalnya : berbuat baik terhadap sesama manusia, saling
toleransi, dan saling tolong menolong
untuk kebaikan dan sebagainya.
b. Masalah-masalah
kehidupan manusia dengan mendasarkan diri dengan nilai-nilai dan norma-norma
moral yang umum di terima.
Menurut pendapat
Magnis Suseno, etika adalah sebuah ilmu dan bukan ajaran, yang menurutnya
adalah etika dalam pengertian kedua. Sebagai ilmu yang terutama menitip
beratkan refleksi kritis dan rasional, etika dalam kedua ini mempersoalkan
apakah nilai dan norma moral tertentu harus di laksanakan dalam situasi
kongkret tertentu yang dihadapi seseorang. Dapat dikatakan bahwa etika bisnis
adalah merupakan studi yang di khususkan mengenai moral yang benar dan salah.
Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana di tereapkan dalam
kebijakan institusi dan perilaku bisnis.
Menurut Velasquez G.
Manuel (2005:2) : “Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah
cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis yang mencakup seluruh aspek yang
berkaitan dengan individu, perusahaan, industri, dan juga masyarakat. Hal
dimaksud mencakup bagaimana seseorang pelaku bisnis menjalankan bisnis sacara
adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan tidak bergantung pada kedudukan
individu ataupun perusahaan di masyarakat. Sementara etika bisnis lebih luas
dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar yang lebih
tinggi dibandingkan dengan standar minimal ketentuan hukum karena dalam
kegiatan bisnis sering kita temukan wilayah abu-abu yang diatur oleh ketentuan
hukum”.
Menurut dari Von Der
Embse dan RA Wagley dalam artikelnya di Advance managemen Jouurnal (1988),
memberikan 3 pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis.
1. Pendekatan Maanfaat, Setiap tindakan harus didasarkan pada
konsekuensinya. Oleh karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti
cara-cara yang dapat memberi maanfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat.
2. Pendekatan Hak
Azazi Manusia, Setiap orang dalam tindakan dan kelakuannya memiliki hak dasar
yang harus dihormati. Namun tindakan atau tingkah laku tersebut harus dihindari
apabila menyebabkan terjadinya benturan dengan hak orang lain.
3. Pendekatan
Hukum, Para pembuat keputusan memiliki kedudukan yang sama dan bertindak adil
dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan baik secara perseorangan ataupun
secara kelompok.
Etiket Moral, Hukum, dan Agama Persamaan Etika dan Etiket (Istiqomah Yunianti)
Etika sendiri berarti
moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Pengertian etika berbeda dengan
etiket. Etiket berasal dari bahasa prancis etiquette yang berarti tata cara
pergaulan yang baik antara sesama manusia. Sementara itu, etika berasal dari
bahasa latin, yang berarti falsafah moral dan merupakan cara hidup yang benar
dilihat dari sudut budaya, susila, dan agama. Meskipun berbeda, etika dan
etiket memiliki beberapa persamaan yakni:
·
Keduanya menyangkut objek yang sama yakni perilaku manusia
·
Etika dan etiket mengatur perilaku manusia secara normatif,
artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa
yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan.
Perbedaan Etika dan
Etiket
·
Etiket menyangkut cara sesuatu melakukan perbuatan harus
dilakukan manusia.
·
Etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan,
etika menyangkut pilihan yaitu apakah perbuatan boleh dilakukan atau tidak.
·
Etiket hanya berlaku pada pergaulan dalam suatu kelompok
tertentu.
·
Etika selalu berlaku dimana saja dan kapan saja.
·
Etiket bersifat relatif, artinya yang dianggap tidak sopan di
suatu kebudayaan bisa saja dianggap sopan di kebudayaan lain.
·
Etika bersifat absolut.
·
Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah.
·
Etika menyangkut manusia dari segi rohaniahnya.
Perbedaan Etika dan
Hukum
·
Hukum pada dasarnya tidak hanya mencakup ketentuan yang
dirumuskan secara tertulis, tapi juga nilai-nilai konvensi yang telah menjadi
norma di masyarakat.
·
Etika mencakup lebih banyak ketentuan-ketentuan yang tidak
tertulis.
·
Pada umumnya masyarakat berpendapat bahwa perilaku yang patuh
hukum adalah merupakan perilaku yang etis.
·
Norma hukum cepat ketinggalan jaman, sehingga dapat menyebabkan
celah hukum.
Perbedaan Moral dan
Hukum
·
Sebenarnya keduanya memiliki hubungan yang cukup erat. Moralitas
adalah keyakinan dan sikap batin, bukan hanya sekedar penyesuaian atau asal
taat terhadap peraturan. perbedaan antara moral dan hukum antara lain:
·
Hukum bersifat objektif karena hukum dituliskan dan disusun
dalam kitab undang-undang. maka hukum lebih memiliki kepastian yang lebih
besar.
·
Moral bersifat subjektif dan akibatnya seringkali diganggu oleh
pertanyaan atau diskusi yang menginginkan kejelasan tentang etis atau tidaknya.
·
Hukum hanya membatasi ruang lingkupnya pada tingkah laku
lahiriah faktual.
·
Moralitas menyangkut perilaku batin seseorang.
·
Pelanggaran terhadap hukum mengakibatkan si pelaku dikenakan
sanksi yang jelas dan tegas.
·
Pelanggaran moral biasanya mengakibatkan hati nuraninya akan
merasa tidak tenang.
·
Sanksi hukum pada dasarnya didasarkan pada kehendak masyarakat.
·
Sedangkan moralitas tidak akan dapat diubah oleh masyarakat.
Etika dan Agama
Etika mendukung
keberadaan agama, dimana etika sanggup membantu manusia dalam menggunakan akal
pikiran untuk memecahkan masalah, perbedaan antara etika dan ajaran agama yakni
etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional, sedangkan agama menuntut
seseorang untuk mendasarkan diri pada wahyu Tuhan dan ajaran agama.
Etika dan Moral
Etika lebih berkaitan
dengan kepatuhan, sementara moral lebih berkaitan dengan tindak kejahatan
Klasifikasi Etika (Prima Nanda A.G. 18214521)
Menurut buku yang
berjudul “Hukum dan Etika Bisnis” karangan Dr. H. Budi Untung, S.H., M.M
(2012:18) etika dapat diklasifikasikan menjadi :
a.
Etika Deskriptif
Etika deskriptif yaitu etika di mana objek
yang dinilai adalah sikap dan perilaku manusia dalam mengejar tujuan hidupnya
sebagaimana adanya. Nilai dan pola perilaku manusia sebagaimana adanya ini
tercemin pada situasi dan kondisi yang telah membudaya di masyarakat secara
turun-temurun.
b.
Etika Normatif
Etika normatif yaitu sikap dan perilaku
manusia atau masyarakat sesuai dengan norma dan moralitas yang ideal. Etika ini
secara umum dinilai memenuhi tuntutan dan perkembangan dinamika serta kondisi
masyarakat. Adanya tuntutan yang menjadi avuan bagi masyarakat umum atau semua
pihak dalam menjalankan kehidupannya.
c.
Etika Deontologi
Etika deontologi yaitu etika yang dilaksanakan
dengan dorongan oleh kewajiban untuk berbuat baik terhadap orang atau pihak
lain dari pelaku kehidupan. Bukan hanya dilihat dari akibat dan tujuan yang
ditimbulakan oleh sesuatu kegiatan atau aktivitas, tetapi dari sesuatu
aktivitas yang dilaksanakan karena ingin berbuat kebaikan terhadap masyarakat
atau pihak lain.
d.
Etika Teleologi
Etika Teleologi adalah etika yang diukur dari
apa tujuan yang dicapai oleh para pelaku kegiatan. Aktivitas akan dinilai baik
jika bertujuan baik. Artinya sesuatu yang dicapai adalah sesuatu yang baik dan
mempunyai akibat yang baik. Baik ditinjau dari kepentingan pihak yang terkait,
maupun dilihat dari kepentingan semua pihak.
e.
Egoisme
Egoisme yaitu etika yang baik menurut pelaku
saja, sedangkan bagi yang lain mungkin tidak baik. Seseorang tidak mempunyai
kewajiban moral selain untuk menjalankan apa yang paling baik bagi kita
sendiri. Jadi, menurut egoisme etis, seseorang tidak mempunyai kewajiban alami
terhadap orang lain. Meski mementingkan diri sendiri, bukan berarti egoisme
etis menafikan tindakan menolong. Mereka yang egoisme etis tetap saja menolong
orang lain, asal kepentingan diri itu bertautan dengan kepentingan orang lain.
Atau menolong yang lain merupakan tindakan efektif untuk menciptrakan
keuntungan bagi diri sendiri.
Konsepsi Etika
Menurut Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho dan Agus Ajanto (2012:23)
“Konsep-konsep dasar etika adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku
manusia serta azas-azas akhlak (moral) serta kesusilaan hati seseorang untuk
berbuat baik dan juga untuk menentukan kebenaran atau kesalahan dan tingkah
Laku seseorang terhadap orang lain. Pentingnya peranan etika dalam organisasi
tidak mungkin lagi dapat dibesar-besarkan. Organisasi tidak mungkin
berfungsi secara bertanggung jawab tanpa memiliki etika ketika menjalankan
urusan kesehariannya. Setiap organisasi, baik publik maupun swasta, seyogianya
memiliki dan menerapkan suatu tatanan perilaku yang dihormati setiap anggotanya
dalam mengelola kegiatan organisasi.”
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM dan Agus Arijanto S.E., M.M.
2012. Etika Bisnis Bagi Pelaku Bisnis.
Bogor: Raja Grafindo Persada
Dr. H. Untung Budi, S.H., M.M tahun. 2012. Hukum dan Etika Bisnis. Yogyakarta: CV Andi Offset
Velasquez, G. Manuel. 2007. Etika
Bisnis Edisi ke 5. Jakarta: Andi
PENGERTAN BUDAYA ORGANISASI DAN HUBUNGANNYA DENGAN ETIKA
SERTA KENDALANYA DALAM KINERJA BISNIS (BUDAYA, TINGKAH LAKU, APRESIASI BUDAYA,
HUBUNGAN ETIKA DAN BUDAYA)
A. Karakteristik budaya organisasi
(Dayana Budi Sabilla 12214569)
Budaya
organisasi adalah sebuah sistem makna
bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari
organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah
sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.
Menurut Robbins dan Judge (2008: 256), memberikan 7 karakteristik budaya sebagai berikut:
Inovasi dan keberanian
mengambil resiko yaitu sejauh mana karyawan diharapkan didorong untuk
bersikap inovtif dan berani mengambil resiko.
Perhatian terhadap detail yaitu
sejauh mana karyawan diharapkan menjalankan presisi, analisis, dan
perhatian pada hal-hal detil.
Berorientasi pada hasil yaitu
sejauh mana manajemen berfokus lebih pada hasil ketimbang teknik atau proses
yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
Berorientasi kepada manusia
yaitu sejauh mana keputusan-keputusan manajemen mempertimbangkan efek dari
hasil tersebut atas orang yang ada di dalam organisasi
Berorientasi pada tim yaitu
sejauh mana kegiatan-kegiatan kerja diorganisasi pada tim ketimbang
individu-individu.
Agresivitas yaitu sejauh mana
orang bersikap agresif dan kompetitif ketimbang santai.
Stabilitas yaitu sejauh mana
kegiatan-kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status quo dalam
perbandingannya dengan pertumbuhan.
Klasifikasikan budaya organisasi ke
dalam empat tipe dasar:
Control culture. Budaya impersonal nyata yang memberikan perhatian
pada kekonkretan, pembuatan keputusan yang melekat secara analitis,
orientasi masalah dan preskriptif.
Collaborative culture. Berdasarkan pada kenyataan individu terhadap
pengambilan keputusan yang dilakukan secara people-driven, organic dan
informal. Interaksi dan keterlibatan menjadi elemen pokok.
Competence culture. Budaya personal yang dilandaskan pada kompetensi
diri, yang memberikan perhatian pada potensi, alternatif, pilihan-pilihan
kreatif dan konsep-konsep teoretis. Orang-orang yang termasuk dalam tipe
budaya ini memiliki standar untuk meraih sukses yang lebih tinggi.
Cultivation culture. Budaya yang berlandaskan pada kemungkinan seorang
individu mampu memperoleh inspirasi.
Berikut ini merupakan 10
karakteristik dari Budaya Organisasi :
Inisiatif individual
Definisi
inisiatif individual adalah tingkat tanggung jawab (responsibility), kebebasan
(freedom) atau independensi (independent) yang dimiliki setiap individu dalam
berpendapat. Kelompok khususnya pimpinan sebaiknya menghargai dan memang perlu
dihargai inisiatif individu dalam suatu organisasi selama ide dan inisiatif
tersebut berguna dalam memajukan dan mengembangkan organisasi atau perusahaan.
Toleransi Terhadap Tindakan
Berisiko
Setiap
pegawai dan anggota atau kader perlu ditekankan tentang batas batas dalam
bertindak agresif, inovatif dan mengambil risiko. Sebuah budaya organisasi yang
baik adalah sebuah budaya yang memberikan toleransi terhadap anggota atau para
pegawai dalam bertindak inovatif dan agresif dalam mengembangkan dan memajukan
organisasi atau perusahaan serta mendorong untuk berani dalam mengambil risiko
terhadap apa yang akan dilakukannya.
Pengarahan
Pengarahan
dimaksudkan sejauh mana suatu organisasi/perusahaan dapat membuat dengan jelas
sasaran dan harapan yang diinginkan. Sasaran dan harapan tersebut haruslah
secara jelas tercantum visi, misi dan tujuan organisasi (pengertian visi misi).
Keadaan yang seperti ini akan memberikan pengaruh terhadap kinerja organisasi /
perusahaan.
Integrasi
Integrasi
dalam budaya organisasi adalah kemampuan suatu organisasi atau perusahaan dalam
memberikan dorongan terhadap unit unit atau satuan dalam organisasi atau
perusahaan untuk bekerja dengan terpimpin atau terkoordinasi. Melalui kerja
yang kompak dan terkoordinasi dengan baik dapat mendorong kualitas dan
kuantitas pekerjaan yang dihasilkan oleh sebuah organisasi atau perusahaan.
Dukungan manajamen
Dukungan
manajemen dalam budaya organisasi adalah tentang kemampuan tingkat manajer
dalam sebuah organisasi atau perusahaan dalam berkomunikasi (baca pengertian
komunikasi) kepada karyawan. Komunikasi tersebut harusnya dalam bentuk dukungan,
arahan ataupun kritisi (membangun) kepada bawahan. Dengan adanya dukungan
manajemen yang komunikatif, sebuah perusahaan atau organisasi dapat berjalan
dengan mulus.
Kontrol
Kontrol
dalam budaya organisasi sangat penting. Kontrol yang dimaksud adalah peraturan
atau norma yang digunakan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Oleh karena
itu diperlukan sejumlah peraturan dan tenaga pengawas (atasan langsung) yang
berfungsi sebagai pengawas dan pengendali perilaku pegawai dan karyawan dalam
suatu organisasi.
Identitas
Identitas
dalam budaya organisasi adalah kemampuan seluruh karyawan dalam suatu
organisasi atau perusahaan dalam mengidentifikasikan dirinya sebagai suatu
kesatuan dalam perusahaan dan bukan sebagai kelompok kerja tertentu atau
keahlian profesional tertentu.
Sistem Imbalan
Sistem
imbalan tidak kalah pentingnya dalam budaya organisasi. Sistem imbalan seperti
pemberian kenaikan gaji, promosi (kenaikan jabatan), bonus liburan dan lainnya
haruslah berdasarkan kemampuan atau prestasi karyawan dalam bekerja dan sangat
tidak diperbolehkan atas alasan alasan perusak lainnya seperti senioritas,
pilih kasih dan hal hal lain yang berbau korupsi (baca pengertian korupsi).
Sistem imbalan dapat memberikan boost atau dorongan terhadap prestasi kerja dan
memberikan peningkatan dalam perilaku inovatif dan kerja maksimal sesuai
keahlian dan kemampuan yang dimiliki karyawan atau anggota dalam organisasi.
Toleransi terhadap Publik
Dalam
budaya organisasi, perbedaan pendapat yang memunculkan konflik sering terjadi
dalam sebuah perusahaan atau organisasi. Hal inilah yang harus dilakukan
sebagai upper manajement untuk mengarahkan konflik yang terbangun untuk
melakukan perbaikan serta perubahan strategi untuk mencapai tujuan organisasi.
Toleransi terhadap konflik harus dimediasi oleh pimpinan atau karyawan superior
sehingga terjadi kritis membangun dan tidak saling menyerang.
Pola komunikasi
Pola
komunikasi dalam perusahaan atau organisasi sering dibatasi oleh hierarki
kewenangan yang formal. Akan tetapi, pola yang terlalu ketat akan menghambat
perkembangan organisasi karena tidakadanya hubungan emosional yang kental
terhadap bawahan dan atasan dalam organisasi. Ada lima pola kinerja komunikasi
yaitu personal, passion, sosial, organizational politics, dan enkulturasi.
B. Fungsi Budaya Organisasi
Budaya
organisasi memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi budaya organisasi adalah
sebagai tapal batas tingkah laku individu yang ada didalamnya.
Budaya memiliki sejumlah fungsi
dalam organisasi :
- Batas
Budaya
berperan sebagai penentu batas-batas; artinya, budaya menciptakan perbedaan
atau yang membuat unik suatu organisasi dan membedakannya dengan organisasi
lainnya.
- Identitas
Budaya
memuat rasa identitas suatu organisasi.
- Komitmen
Budaya
memfasilitasi lahirnya komitmen terhadap sesuatu yang lebih besar daripada
kepentingan individu.
- Stabilitas
Budaya
meningkatkan stabilitas sistem sosial karena budaya adalah perekat sosial yang
membantu menyatukan organisasi dengan cara menyediakan standar mengenai apa
yang sebaiknya dikatakan dan dilakukan karyawan.
- Pembentuk sikap dan perilaku
Budaya
bertindak sebagai mekanisme alasan yang masuk akal (sense-making) serta kendali
yang menuntun dan membentuk sikap dan perilaku karyawan. Fungsi terakhir inilah
yang paling menarik.
Sebagaimana
dijelaskan oleh kutipan berikut, budaya mendefinisikan aturan main: “Dalam
definisinya, bersifat samar, tanmaujud, implisit, dan begitu adanya. Tetapi,
setiap organisasi mengembangkan sekmpulan inti yang berisi asumsi, pemahaman,
dan aturan-aturan implisit yang mengatur perilaku sehari-hari di tempat kerja.
Hingga para pendatang baru mempelajari aturan, mereka tidak diterima sebagai
anggota penuh organisasi. Pelanggaran aturan oleh pihak eksekutif tinggi atau
karyawan lini depan membuat publik luas tidak senang dan memberi mereka hukuman
yang berat. Ketaatan pada aturan menjadi basis utama bagi pemberian imbalan dan
mobilitas ke atas.”
C. Pedoman Tingkah Laku (Istiqomah
Yunianti 15214532)
Menurut Moeljono
Djokosantoso (2005: 86) Pedoman perilaku merupakan penjabaran nilai-nilai
perusahaan dan etika bisnis dalam melaksanakan usaha sehingga menjadi panduan
bagi organ perusahaan dan semua karyawan perusahaan.
contoh
pedoman perilaku di Jasa Marga :
Prinsip
Dasar Untuk mencapai keberhasilan dalam jangka panjang, pelaksanaan GCG
perlu dilandasi oleh integritas yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan
pedoman perilaku (code of conduct) yang dapat menjadi acuan bagi organ
perusahaandan semua karyawan dalam menerapkan nilai-nilai(values) dan etika
bisnis sehingga menjadi bagian dari budaya perusahaan. Prinsip dasar
yang harus dimiliki oleh perusahaan adalah:Setiap perusahaan harus
memiliki nilai-nilai perusahaan (corporate values) yang menggambarkan
sikap moral perusahaan dalam pelaksanaan usahanya .Untuk dapat
merealisasikan sikap moral dalam pelaksanaan usahanya, perusahaan harus
memiliki rumusan etika bisnis yang disepakati oleh organ perusahaan dan
semua karyawan. Pelaksanaan etika bisnis yang berkesinambungan akan
membentuk budaya perusahaan yang merupakan manifestasi dari nilai – nilai
perusahaan. Nilai-nilai dan rumusan etika bisnis perusahaan perlu
dituangkan dan dijabarkan lebih lanjut dalam pedoman perilaku agar dapat
dipahami dan diterapkan Pedoman Pokok Pelaksanaan. Nilai-nilai Perusahaan Nilai-nilai
perusahaan merupakan landasan moral dalam mencapai visi dan misi perusahaan.
Oleh karena itu, sebelum merumuskan nilai-nilai perusahaan, perlu dirumuskan
visi dan misi perusahaan. Walaupun nilai-nilai perusahaan pada dasarnya
universal, namun dalam merumuskannya perlu disesuaikan dengansektor usaha
serta karakter dan letak geografis dari masing – masing
perusahaan. Nilai-nilai perusahaan yang universal antara lain adalah
terpercaya, adil dan jujur.
D. Apresiasi Budaya
Apresiasi
Budaya adalah pemahaman dan pengenalan secara tepat sehingga tumbuh penghargaan
dan penilaian terhadap hasil budaya kegiatan menggauli hasil budaya
dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan
kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap hasil karya.
Apresiasi
kebudayaan adalah penghargaan dan pemahaman atas budaya (Natawidjaja, 1980),
kegiatan menggauli (kebudayaan) dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh
pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang
baik (terhadap kebudayaan) (Effendi, 1974), pendek kata, penghargaan (terhadap
kebudayaan) yang didasarkan pada pemahaman (Sudjiman, 1984).
Tujuan
apresiasi adalah menumbuhkan kepekaan dan keterbukaan terhadap masalah
kemanusiaan dan budaya, serta lebih bertanggung jawab terhadap masalah-masalah
tersebut serta menyadarkan kita terhadap nilai-nilai yang lebih hidup dalam
masyarakat, hormat menghormati serta simpati pada nilai – nilai lain yang hidup
dalam masyarakat.
Jadi
Apresiasi Budaya adalah pemahaman dan pengenalan secara tepat sehingga tumbuh
penghargaan dan penilaian terhadap hasil budaya dan kegiatan menggauli hasil
budaya dengan sungguh – sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan,
kepekaan kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap hasil karya.
E. Hubungan Etika dan Budaya
Salah satu
faktor eksternal yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah budaya organisasi.
Budaya organisasi merupakan nilai-nilai yang berkembang dalam suatu organisasi,
di mana nilai-nilai tersebut digunakan untuk mengarahkan perilaku anggota-anggota
organisasi (Soedjono, 2005). Perilaku karyawan tersebut dipengaruhi oleh
lingkungan tempat mereka bekerja yang dibentuk melalui budaya organisasi, di
mana keberadaan budaya dalam suatu organisasi diharapkan akan meningkatkan
kinerja karyawan. Selain berpengaruh terhadap kinerja karyawan, budaya
organisasi juga memiliki keterkaitan yang erat dengan kepuasan kerja. Kepuasan
kerja dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan emosional yang menyenangkan
atau tidak menyenangkan di mana para karyawan memandang pekerjaannya (Handoko,
1998, dalam Widodo, 2006). Apabila persepsi karyawan terhadap budaya dalam
suatu organisasi baik, maka karyawan akan merasa puas terhadap pekerjaannya.
Sebaliknya, apabila persepsi karyawan terhadap budaya dalam suatu organisasi
tidak baik, maka karyawan cenderung tidak puas terhadap pekerjaannya (Robbins
dan Judge, 2008). Karyawan yang merasa puas terhadap pekerjaannya dan
menggangap pekerjaannya sebagai sesuatu yang menyenangkan akan cenderung
memiliki kinerja yang baik.
Robbins
dan Judge (2008) mengartikan budaya organisasi sebagai sebuah sistem makna
bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan organisasi tersebut
dengan organisasi lainnya. Menurut Robbins dan Judge (2008) budaya organisasi
mewakili sebuah persepsi yang sama dari para anggota organisasi. Oleh karena
itu, diharapkan bahwa individu – individu yang memiliki latar belakang berbeda
atau berada pada tingkatan yang tidak sama dalam organisasidapat memahami
budaya organisasi dengan pengertian yang serupa. Hofstede (1986, dalam
Koesmono, 2005) menyatakan bahwa budaya merupakan berbagai interaksi dari
ciri-ciri kebiasaan yang mempengaruhi kelompok-kelompok orang dalam
lingkungannya. Agar budaya organisasi dapat berfungsi secara optimal, maka
budaya organisasi harus diciptakan, dipertahankan, dan diperkuat serta
diperkenalkan kepada karyawan melalui proses sosialisasi (Nurtjahjani dan
Masreviastuti, 2007). Melalui sosialisasi ini, karyawan diperkenalkan tentang
tujuan, strategi, nilai-nilai, dan standar perilaku organisasi serta informasi
yang berkaitan dengan pekerjaan.
Hubungan
antara Etika dengan Kebudayaan : Meta-ethical cultural relativism merupakan
cara pandang secara filosofis yang yang menyatkan bahwa tidak ada kebenaran
moral yang absolut, kebenaran harus selalu disesuaikan dengan budaya dimana
kita menjalankan kehidupan soSial kita karena setiap komunitas sosial mempunyai
cara pandang yang berbeda-beda terhadap kebenaran etika.
Etika erat
kaitannya dengan moral. Etika atau moral dapat digunakan okeh manusia sebagai
wadah untuk mengevaluasi sifat dan perangainya. Etika selalu berhubungan dengan
budaya karena merupakan tafsiran atau penilaian terhadap kebudayaan. Etika
mempunyai nilai kebenaran yang harus selalu disesuaikan dengan kebudayaan
karena sifatnya tidak absolut danl mempunyai standar moral yang berbeda-beda
tergantung budaya yang berlaku dimana kita tinggal dan kehidupan social apa
yang kita jalani.
Baik atau
buruknya suatu perbuatan itu tergantung budaya yang berlaku. Prinsip moral
sebaiknya disesuaikan dengan norma-norma yang berlaku, sehingga suatu hal
dikatakan baik apabila sesuai dengan budaya yang berlaku di lingkungan sosial
tersebut. Sebagai contoh orang Eskimo beranaggapan bahwa tindakan infantisid
(membunuh anak) adalah tindakan yang biasa, sedangkan menurut budaya Amerika
dan negara lainnya tindakan ini merupakan suatu tindakan amoral.
Suatu
premis yang disebut dengan “Dependency Thesis” mengatakan “All moral principles
derive their validity from cultural acceptance”. Penyesuaian terhadap
kebudayaan ini sebenarnya tidak sepenuhnya harus dipertahankan dan dibutuhkan
suatu pengembangan premis yang lebih kokoh.
Etika
perusahaan menyangkut hubungan :
- Perusahaan dan karyawan sebagai
satu kesatuan dengan lingkungannya (misalnya dengan perusahaan lain atau
masyarakat setempat).
- Etika kerja terkait antara
perusahaan dengan karyawan.
- Etika perorangan mengatur
hubungan antar karyawan.
Faktor
utama yang dapat menciptakan iklim etika dalam perusahaan :
- Terciptanya budaya perusahaan
secara baik.
- Terbangunnya suatu kondisi
organisasi berdasarkan saling percaya (trust-based- organization).
- Terbentuknya manajemen hubungan
antar pegawai (employee relationship management).
Iklim
etika dalam perusahaan dipengaruhi oleh adanya interaksi beberapa faktor :
- Faktor kepentingan diri sendiri
- Keuntungan perusahaan
- Pelaksanaan efisiensi
- Kepentingan kelompok
F. Pengaruh Etika Terhadap Budaya
(Prima Nanda A.G. 18214521)
Menurut John
M. Ivancevich (2006:35) Etika seseorang dan etika bisnis adalah satu kasatuan
yang terintegrasi sehingga tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya,
keduanya saling melengkapi dalam mempengaruhi perilaku antar individu maupun
kelompok, yang kemudian menjadi perilaku organisasi yang akan berpengaruh
terhadap budaya perusahaan. Jika etika menjadi nilai dan keyakinan yang
terinternalisasi dalam budaya perusahaan, maka akan berpotensi menjadi dasar
kekuatan perusahaan dan akhirnya akan berpotensi menjadi stimulus dalam
peningkatan kinerja karyawan. Terdapat pengaruh yang signifikan antara etika
seseorang dari tingkatan manajer terhadap tingkah laku etis dalam pengambilan
keputusan. Kemampuan seorang profesional untuk dapat mengerti dan pekau
terhadap adanya masalah etika dalam profesinya sangat dipengaruhi oleh
lingkungan, sosial budaya, dan masyarakat dimana dia berada. Budaya
perusahaan memberikan sumbangan yang sangat berarti terhadap perilaku etis.
Perusahaan akan menjadi lebih baik jika mereka membudayakan etika dalam lingkungan
perusahaannya.
Perilaku
etis dapat menimbulkan saling percaya antara perusahaan dengan stakeholder.
Perilaku etis dapat mencegah pelanggan, pegawai dan pemasok bertindak
oportunis, serta tumbuhnya saling percaya. Budaya perusahaan memberi kontribusi
signifikan terhadap pembentukan perilaku etis. Budaya dapat mendorong
terciptanya perilaku etis atau sebaliknya dapat mendorong terciptanya perilaku
tidak etis. Berikut adalah Faktor yang menyebabkan terciptanya iklim etika
dalam perusahaan:
- Terciptanya budaya perusahaan
secara baik.
- Terbangunnya suatu kondisi
organisasi berdasarkan saling percaya.
- Terbentuknya manajemen hubungan
antar pegawai.
G. Kendala Mewujudkan Kinerja Bisnis
Mentalitas
para pelaku bisnis, terutama top management yang secara moral rendah, sehingga
berdampak pada seluruh kinerja Bisnis. Perilaku perusahaan yang etis biasanya
banyak bergantung pada kinerja top management, karena kepatuhan pada aturan itu
berjenjang dari mulai atas ke tingkat bawah.
Faktor
budaya masyarakat yang cenderung memandang pekerjaan bisnis sebagai profesi
yang penuh dengan tipu muslihat dan keserakahan serta bekerja mencari untung.
Bisnis merupakan pekerjaan yang kotor. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa
masyarakat kita memiliki persepsi yang keliru tentang profesi bisnis.
Faktor
sistem politik dan sistem kekuasaan yang diterapkan oleh penguasa sehingga
menciptakan sistem ekonomi yang jauh dari nilai-nilai moral. Hal ini dapat
terlihat dalam bentuk KKN.
Pencapaian
tujuan etika bisnis di Indonesia masih berhadapan dengan beberapa masalah dan
kendala. Keraf`(1993:81-83) menyebut beberapa kendala tersebut yaitu:
- Standar moral para pelaku
bisnis pada umumnya masih lemah.
Banyak di
antara pelaku bisnis yang lebih suka menempuh jalan pintas, bahkan menghalalkan
segala cara untuk memperoleh keuntungan dengan mengabaikan etika bisnis,
seperti memalsukan campuran, timbangan, ukuran, menjual barang yang
kadaluwarsa, dan memanipulasi laporan keuangan.
- Banyak perusahaan yang
mengalami konflik kepentingan.
Konflik
kepentingan ini muncul karena adanya ketidaksesuaian antara nilai pribadi yang
dianutnya atau antara peraturan yang berlaku dengan tujuan yang hendak
dicapainya, atau konflik antara nilai pribadi yang dianutnya dengan praktik
bisnis yang dilakukan oleh sebagian besar perusahaan lainnya, atau antara
kepentingan perusahaan dengan kepentingan masyarakat. Orang-orang yang kurang
teguh standar moralnya bisa jadi akan gagal karena mereka mengejar tujuan
dengan mengabaikan peraturan.
- Situasi politik dan ekonomi
yang belum stabil.
Hal ini
diperkeruh oleh banyaknya sandiwara politik yang dimainkan oleh para elit
politik, yang di satu sisi membingungkan masyarakat luas dan di sisi lainnya
memberi kesempatan bagi pihak yang mencari dukungan elit politik guna
keberhasilan usaha bisnisnya. Situasi ekonomi yang buruk tidak jarang
menimbulkan spekulasi untuk memanfaatkan peluang guna memperoleh keuntungan
tanpa menghiraukan akibatnya.
- Lemahnya penegakan hukum.
Banyak
orang yang sudah divonis bersalah di pengadilan bisa bebas berkeliaran dan
tetap memangku jabatannya di pemerintahan. Kondisi ini mempersulit upaya untuk
memotivasi pelaku bisnis menegakkan norma-norma etika.
- Belum ada organisasi profesi
bisnis dan manajemen untuk menegakkan kode etik bisnis dan manajemen.
\
DAFTAR
PUSTAKA
John M. Ivancevich; Michael T. Matteson dkk. 2006. Budaya
Organisasi dalam . Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta: Erlangga.
Robbins, Stephen P. dan Judge, Timothy A. 2008. Perilaku
Organisasi, Buku 2. Jakarta: Salemba Empat.
dayanabudisabilla.blogspot.co.id
Komentar
Posting Komentar